Tulisan yang berada di blog ini terdiri dari berbagai tulisan yang ditulis dengan asal-asalan. Maksudnya asal dari segala macam asal, seperti asal nulis, asal kena, asal jadi, asal enak, asal mood, asal ingin, asal dibaca, asal berguna, dan asal-asal yang lain. Namun bukan asal jiplak, asal nyalin, asal nyadur atau asal yang bisa merugikan orang lain. Siapapun boleh mengomentari, membaca, menyalin, mencetak, mempublikasikan, menerbitkan, ataupun hal yang senada dengan itu tapi harus ingat akan pencantuman nama penulis dan alamat blog ini dalam media yang digunakan untuk pelaksanaan hal atau proses tersebut.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Isi Hatiku


karya : Adinda Yanti (Darmiyanti)

aku bingung akan sesuatu
apakah aku harus menjauhimu?
sebelum aku terlanjur suka padamu
aku takut terjadi karma pada diriku
karena cintaku merendahkan harga diriku

aku wanita yang tak begitu lemah
tapi karena cinta aku pun tak berdaya
maka dari itu tolong jangan kau sakiti aku

bila memang kau bukan untuk ku
jangan ada luka antara kau dan aku
aku sangat menyayangimu bukan berarti kau harus jadi miliku...

Kamis, 03 Januari 2013

Dua Sentimeter

Jadi bingung aku mau berkata apa,
karena kata-kata seolah kehilangan maknanya.
Udara di antara kami menegang —
hangat dan dingin beradu tanpa suara.

Bibirku kini hanya dua sentimeter dari bibirnya,
detik terasa menua di antara napas yang saling menyapa.
Aku tak lagi melihat senyumnya,
tak lagi ada cemberut yang biasanya menantangku,
karena mataku telah terperangkap oleh matanya —
dua samudra kecil yang menenggelamkan seluruh amarahku.

Sungguh, pertengkaran kami hanyalah badai yang malu,
karena kini bibirku dan bibirnya bertengkar dengan cara yang lain —
tanpa kata, tanpa dendam,
hanya sentuhan yang mengguncang waktu.

Amarah yang tadi menyalakan dada,
pelan-pelan luruh jadi api lembut,
menyala bukan untuk membakar,
tapi untuk menghangatkan jarak yang nyaris retak.

Dan di antara diam yang panjang,
aku mengerti sesuatu yang tidak pernah sempat kuucapkan:
bahwa cinta, ternyata,
bisa lebih kuat dari logika,
lebih jujur dari permintaan maaf,
lebih tulus dari semua alasan.

Rabu, 30 November 2011

Galau (2)

Galau karna cinta yg slalu berakhir dg suatu lirik di lagu dangdut "cintaku bertepuk sebelah tangan"
itu masih suatu hal yang bisa dimaklumi, kadang pula galau menjalar seperti lantunan lirik "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini"
karena memang cinta itu biang kegalauan bagi jiwa2 muda yg masih sendiri


Pangeran Embun 26102011 00:35

Galau (1)



Galau, mengapa kau menjengukku?
Dengan wajah yg terlihat malu2, namun sangat menginginkanku.
Aku sama sekali tak mau bersamamu.
Namun sekarang kau tlah menjelma bagai penyakit kudis, dibiarkan makin menggelitik, digaruk makin melebar.
Sungguh aneh dirimu, sangat kubenci namun sekarang melekat di diriku.
Kau tlah membuatku ragu.
Ingin melangkah, tidak mengerti arah.
Ingin diam merasa tidak nyaman.
Gundah, bimbang muncul dg suka cita diatas derita ini.

Pangeran Embun 26102011 00:35

Sabtu, 16 Juli 2011

Satu Kata (Versi 6)

Cukup satu kata untuk orang yang dicinta
Cukup satu kata untuk orang yang dibenci

Cukup satu kata untuk orang yang menyayangimu
Cukup satu kata untuk orang yang memusuhimu

Satu kata ini cukup dikatakan pada kekasihmu
Satu kata ini cukup dikatakan pada musuhmu
Satu kata ini cukup dikatakan pada kakakmu
Satu kata ini cukup dikatakan pada adikmu
Satu kata ini cukup dikatakan pada sahabatmu

Hanya satu kata
Tidak lebih

Rabu, 15 Juni 2011

Bacalah

Bacalah
Aku telah membaca
Bacalah
Apa lagi yang harus kubaca?
Bacalah
Aku sudah membacanya
Bacalah
Mengapa aku harus membacanya lagi?
Bacalah
Aku sudah mengerti akan isinya
Bacalah
Aku tidak ingin mengulangi apa yang telah kubaca
Bacalah
Aku bisa menjelaskan apa yang telah kubaca
Bacalah
Mengapa kamu paksa aku membaca?
Bacalah
Aku tidak ingin membacanya
Bacalah
Aku benci akan dirimu
Bacalah
Aku tidak mau kamu suruh
Bacalah
Aku bukan budakmu
Bacalah
Aku tidak bisa membaca
Bacalah
Mengapa kamu masih menyuruhku?
Bacalah
Aku tidak suka membaca

Rabu, 08 Juni 2011

Hujan yang bising itu

hujan yang bising itu
tlah membungkam telinga
yang bersendawa dengan alunan syair
dari asap berwarna jingga
sisa kebengisan tetesan hujan
di atas tumpukan kayu
yang terbakar oleh hijaunya api

                hujan yang bising itu
                menghantam daun-daun pinus
                dan menjadikannya demam
                bersama rintihan roda sepeda
                yang mengoyak-oyak langit

Selasa, 07 Juni 2011

Lentera penerangku


Baru kusadari sekarang
Dirimu adalah diriku
Namun diriku bukanlah dirimu

Baru kumengerti bahwa
Nafasmu adalah nafasku
Namun nafasku bukanlah nafasmu

Sekarang
Jangan bertanya tentang aku
Tentang apa yang kuperbuat
Karena aku hanya nyala api
Di batang korek api
Yang mudah mati tertiup angin

Aku sekarang butuh cahaya penerang
Yang memberikan kehangatan
Dan rasa bahagia dengan segumpal senyuman

Tahukah siapa lentera itu?
Sahabat, pasti kau tahu siapa dia
Namun dia telah pergi
Dan kini aku sendiri
Tidak bisa membedakan
Antara merah dan hitam
Sehingga putih dan biru juga tiada berbeda

Minggu, 05 Juni 2011

Baru kusadari


Baru kusadari sekarang
Dirimu adalah diriku
Namun diriku bukanlah dirimu

Baru kumengerti bahwa
Nafasmu adalah nafasku
Namun nafasku bukanlah nafasmu

Sekarang
Merah dan hitam terlihat sama
Putih dan biru tiada berbeda

Kamis, 14 April 2011

Satu Kata (Versi 5)

Aku ingin bunuh diri
Setelah mendengar satu kata
Yang terucap dari bibir indahmu

Kamis, 13 Januari 2011

Selasa, 11 Januari 2011

Satu Kata (Versi 3)

Kamu pasti tahu akan satu kata ini
Begitu juga orang di sekelilingmu
Dan pasti kau siap kehilangan apapun
Karena satu kata ini
Meskipun kau sulit katakannya

Satu Kata (Versi 2)

Satu kata yang membuatku bimbang
Satu kata yang membuatku terheran-heran

Satu kata ini yang membuatku kagum
Akan suatu kebodohan manusia
Yang mengakhiri hidup karenanya

Hanya satu kata saja
Tidak lebih

Satu Kata (Versi 1)

Satu kata ini sangatlah sulit kuartikan
Karena setiap orang memiliki pengertian tersendiri

Senin, 03 Januari 2011

Inginku

Ingin kubalut wajahmu dengan tisu toilet
Agar pandanganku tidak selalu menuju padamu

Ingin kucincang telingamu dengan belati di dapur
Agar aku muntah waktu melihatmu

Ingin kusumpal mulutmu dengan tumpukan jerami
Agar kau tak bisa memanggil namaku

Ingin kucongkel matamu dan kubakar bulu matamu
Agar tak bisa kau mencariku

Tidak Mengerti


semakin hari, aku semakin tak mengerti
akan aspal, batu, tanah
dan adonan semen disebelah pemakaman itu

bertambah bimbangku karena tidak tahu
nyanyian angin di atas ilalang
tarikan nafas kepodang yang bertengger di dahan

ingin kurengkuh sehelai dirimu di pemakaman itu
bersama tarian ilalang

bersama adonan semen

Senin, 06 Desember 2010

Ade

Ade
Senyumanmu begitu menawan
Hatiku tertawan di jeruji senyumanmu

Ade
Manis sangat wajahmu
Yang selalu dihiasi senyuman
Diwarnai kata-kata indah

Ade
Kau bahagia di waktu aku gembira
Kau membimbingku menghadapi masalah
Kau bantu aku tersenyum di waktu kusedih

Ade
Ingin kusampaikan sesuatu padamu
Namun sulit bagiku untuk katakan
Bukan karena ku malu
Tapi takut kau menjauh dariku

Jumat, 29 Oktober 2010

Langkahku


Waktu fajar menyingsing dari ufuk timur
Mataku terbuka lebar tuk saksikan keindahan
Telingaku waspada akan nyanyian alam
Tubuhku terangkat untuk pergi dari peristirahatan

Kakiku berjalan menapaki bumi Allah
Mataku memandang fenomena pembangkit asa
Telingaku mendengar sahutan kokok ayam
Kulitku diterpa angin yang menyegarkan
Langkahku semakin ringan bersama lantunan ayat Tuhan

Subuh ini memang begitu indah
Apalagi bila ditemani pemilik jemari lentik nan indah
Berparas bagai bulir embun
Yang bening dan menyejukkan di pagi ini

Rasa syukurku pada-Nya akan nian bertambah
Seiring dengan bertambahnya nikmat
Beristeri dengan wanita shalihah
Yang selalu mengingatkan akan nikmat-Nya
Yang tak pernah berakhir sampai suatu hari nanti

Selasa, 20 April 2010

Panen Raya

Bola lempung melayang di atas sawah
Gemericik air tidurkan jerami-jerami kering
Hangatnya mentari disambut gelak tawa kurcaci
Angin sumilir lingkari tubuh mungil
Rumput dan padas bernyanyi akan cita-cita
Alunan ani-ani hilangkan sedih
Bulir-bulir gabah terbang dan menari
Burung-burung kecil lepaskan kegelisahan

Badai yang Dahsyat

Kilat, petir, gledek saling menyambar bergantian
Cinta, takut, harap menancap dengan kuatnya
Awan tebal gelapkan pandangan
Rengek dan tangisan kukuhkan permintaan
Hujan deras menggerus tanah dan pasir
Ratapan pilu diiringi untaian zikir
Butiran es menghantam atap tiap rumah
Ketaatan tlah menghujam dalam dadanya
Angin yang kencang terbangkan ranting dan dahan
Tangan yang menengadah sempurnakan permohonan
Air membanjiri setiap hidup dan mati
Air mata basahi pipi, dagu, dan telapak tangan