Jadi bingung aku mau berkata apa,
karena kata-kata seolah kehilangan maknanya.
Udara di antara kami menegang —
hangat dan dingin beradu tanpa suara.
Bibirku kini hanya dua sentimeter dari bibirnya,
detik terasa menua di antara napas yang saling menyapa.
Aku tak lagi melihat senyumnya,
tak lagi ada cemberut yang biasanya menantangku,
karena mataku telah terperangkap oleh matanya —
dua samudra kecil yang menenggelamkan seluruh amarahku.
Sungguh, pertengkaran kami hanyalah badai yang malu,
karena kini bibirku dan bibirnya bertengkar dengan cara yang lain —
tanpa kata, tanpa dendam,
hanya sentuhan yang mengguncang waktu.
Amarah yang tadi menyalakan dada,
pelan-pelan luruh jadi api lembut,
menyala bukan untuk membakar,
tapi untuk menghangatkan jarak yang nyaris retak.
Dan di antara diam yang panjang,
aku mengerti sesuatu yang tidak pernah sempat kuucapkan:
bahwa cinta, ternyata,
bisa lebih kuat dari logika,
lebih jujur dari permintaan maaf,
lebih tulus dari semua alasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar