Halaman
Rabu, 31 Maret 2010
Dahan Kelabu
Sunyi mengiris, hati terkikis
Menuai kasih rembulan pagi
Langit menggertak, tubuh merinding
Rumput bergetar mengharap air
Angin menerpa jiwa yang sepi
Hamparan debu selimuti mimpi
Lonceng berbunyi memotong ranting
Pohon berdesis, malam pun bising
Udara mencekik penghuni bumi
Bongkahan batu menelan dingin
Minggu, 28 Maret 2010
kawan
ku tlah saksikan kepedihan
dari daun yg menimang asa
dari sampah yg tak dipedulikan
meminta kelapangan jiwa
kawan
rasa sakit tlah kuderita
sakit yang memecah bongkahan batu dalam jiwa
yang mengurung sebagian asa
kawan
ku tlah kembali menemuimu
tuk menuntaskan rasa rindu dan lara
juga menghentikan kepedihan yg kau derita
agar kutilang betah di dekatmu
tuk dapati senyuman indah di wajahmu
Rabu, 24 Maret 2010
Elang
Aku adalah seekor elang yang mampu terbang jauh nan tinggi
Aku adalah seekor elang yang mampu mengelilingi jagad dengan satu kepakan sayap
Aku adalah seekor elang yang mampu menghadapi rntangan dengan tegar
Aku adalah seekor elang yang mampu melakukan perjalanan dengan fokus
Selasa, 23 Maret 2010
Senyum
Hatiku semakin bertambah rasa
Jiwaku semakin mensyukuri nikmat-Nya
Anganku semakin membayangkan
Hari yang begitu indah
Senyum yang sangat mempesona
Dari wanita yang elok parasnya
Waktu itu
Ku tak dapat berkata-kata
Hanya bisa memandang simpul bibir indah
Dan tatapan mata yang meyakinkan
Membuatku selalu mengingat keagungan-Nya
Bening: Ketika Hati Tak Lagi Bisa Berpaling
Tubuh ini serasa tanpa asa,
seolah kehilangan kemampuan
untuk segera memalingkan mata.
Ada sesuatu yang menahan,
seakan seluruh diri ini membeku—
tanpa daya, tanpa kata.
Mata pun terus menatap,
tanpa jemu, tanpa bosan,
seperti ada magnet lembut
yang memaksa hati untuk diam.
Entah…
apakah hati ini telah berpaling?
Ataukah aku yang perlahan
menjauh dari-Nya?
Semua bermula dari satu pandangan—
pandangan yang membuatku terdiam lama,
pada seorang wanita
yang membutakan mata sekaligus membuka hati.
Wajahnya begitu bening,
jernih seperti aliran air yang menenangkan.
Akhlaknya memukau,
membuat kata-kata patah
bahkan sebelum sempat terucap.
Di hadapannya,
segala rasa yang pernah kukenal
tiba-tiba runtuh dan hilang makna.
Pusing
Di kanan maupun di kiri
Menyuarakan emansipasi
Menerjemahkan hak asasi
Menggemborkan kesejahteraan
Melantunkan penderitaan
Jalanan macet
Satu jam, dua jam
Bahkan sampai tiga jam
Terhalang teriakan promosi, resepsi
Apalah itu namanya
Hari berganti hari
Teriakan makin menjadi
Kemiskinan, ketidakadilan
Kebodohan, penyelewengan
Dan lain sejenisnya
Menjadi bahan teriakan mereka
Hening
Sunyi dari canda tawa bocah
Dari nyanyian pelipur lara
Dari asa yang selalu mencari celah
Untuk tampakkan sosoknya
Namun di suatu sisi
Diatas kardus
Di dalam diri seorang anak berbaju lusuh
Terdapat asa yang membara
Membakar jiwa
Gairah berkecamuk dalam tubuh kecil itu
Tuk bisa menatap matahari di jalanan
Bodoh
Bodoh
Kenapa hati ini
Kubiarkan dihinggapi
Suatu penyakit bernama cinta
Membentuk koloni
Dan menggerogoti asa
Sungguh bodoh
Asa pun lenyap
Jiwa tinggal setengah
Nafsu menjadi-jadi
Sangat bodoh
Akal diam tanpa daya
Melihat keganasan cinta
Menyaksikan kekejaman syahwat
Dan pudarnya asa
Minggu, 21 Maret 2010
Layulah Bungaku
Bunga yang indah, banyak kumbang menginginkanmu
Begitu pula dengan para ngengat yang telah lama menanti kehadiranmu
Namun kenapa kau selalu menutupi perhiasanmu dengan mahkotamu
Perhiasan yang telah dinantikan oleh para kumbang
Seperti itulah yang kau lakukan pada setiap kumbang
Mengapa kau lakukan hal seperti ini?
Bunga pun merasa bahwa hanya kupu-kupulah yang berhak menyentuhnya
Namun kapankah kupu-kupu itu datang?
Sehari lagi
Seminggu lagi
Sebulan lagi
Atau tidak akan datang sama sekali
Penantian yang tak akan berakhir
Sekarang bunga sudah mulai layu
Dan kumbang sudah pergi dari taman itu
Bunga pun menyesali sesuatu yang tidak bisa berubah lagi
Sehingga dia habis tertelan masa tanpa suatu kebahagiaan
Kereta Manusia
Terbungkus oleh tiga helai kain putih
Dalam sebuah peti
Yang dibopong oleh belasan manusia
Dengan iringan tangis
Menuju rumah tanpa pintu dan jendela
Dengan beratapkan tanah dan batu nisan
Dan taburan bunga di atasnya
Seonggok tubuh itu
Mengingatkanku pada dosa-dosaku
Yang jumlahnya
Sebanyak butir pasir di bumi
Sebanyak detak jantung manusia di muka bumi
Karena itu aku sebagai seorang hamba yang banyak dosa
Memohon kepada-Mu pengampunan dosa-dosaku
Yang telah menggunung itu
Karena kutahu
Hanya Engkaulah yang Maha Pengampun
Kehendak-Mu
Selembar daun pun takkan jatuh
Sebutir telur pun takkan menetas
Seekor kumbang pun takkan hinggap
Sebatang pohon pun takkan berbunga
Sebuah ranting pun takkan terbakar
Sebutir debu pun takkan melayang
Sepercik air pun takkan menetes
Sebongkah es pun takkan mencair
Sepasang kaki pun takkan melangkah
Sehingga ku memohon kepada-Mu
Agar Kau berkehendak
Mempertemukan hamba
Dengan malam seribu bulan
Malam kemenangan hamba-Mu
Yang menanti keridhoan-Mu
Pengampunan-Mu
Kecintaan-Mu
Dan anugerah dari-Mu
Yang sangat besar
Bagi hamba-Mu
Bagi penanti karunia-Mu
Sungguh Maha Pemurah Engkau ya Allah
Kau hembuskan angin untuk nelayan berlayar
Kau turunkan hujan untuk petani berladang
Kau gantikan siang dengan malam untuk istirahat
Kau berikan lelah agar kami bersyukur
Kau tempelkan kantuk pada kami agar kami bermimpi
Kau pasangkan pria dengan wanita agar tentram jiwanya
Kau pindahkan matahari dari timur ke barat agar kami tahu bilangan hari
Kau gantungkan lapar pada lambung kami agar menikmati karunia-Mu
Namun masih ada hamba-Mu yang tidak bersyukur akan karunia-Mu
Bukan karena tidak mengerti, tapi mereka sombong akan nikmat-Mu
Bukan pula karena dapat merasakan nikmat-Mu, tapi merasa Engkau lebihkan
Ya Allah bila Engkau berkehendak untuk menyadarkan mereka
Maka jadikanlah hamba sebagai penyampainya
Cinta-Mu
Kepada hamba-Mu yang beriman
Untuk meraih cinta-Mu
Cinta penenteram hati
Di bulan ini Engkau berikan suatu malam
Yang sangat indah
Yang telah ditunggu
Para hamba yang mencari cinta-Mu
Di bulan ini Engkau turunkan panduan
Yang membimbing manusia kepada cinta-Mu
Cinta kekasih yang abadi
Di bulan ini Engkau tebarkan ampunan
Ampunan untuk hamba-Mu
Yang menantikan cinta dan ampunan-Mu
Surau Kecil
Pada tengah malam
Dari seorang pemuda
Dalam sebuah surau kecil
Yang berbatasan dengan pemakaman
Berdinding anyaman bambu dan papan
Beratap sulaman daun kelapa
Beralas tikar diatas tanah
Takkan ada malam yang sunyi
Di sekitar pemakaman
Karena selalu bergema
Kalimat-kalimat Allah
Dan zikir pada-Nya
Dari bibir pemuda penghuni surau kecil
Trotoar
namun tak ada yang peduli
akan bau yang memaksa tangan menutup hidung
akan polusi yang memisahkan paru2 dari udara segar
sampai sekarangpun masih sama
coba kupungut sampah satu per satu
meski dengan menutup hidung
bukan karena kupeduli
bukan juga oleh imbalan yang kudapat
namun karena lolongan perut anak dan bini
Pagiku
Ditambah kehangatan mentari dan kicau burung
Seiring dengan alunan nada rumput ilalang
Meregangkan otot-otot keram di raga
Namun waktu pagi itu telah hilang
Sekarang sianglah yang datang
Di mana para ilalang menutupi hidungnya
Para burung berpindah ke belantara
Tidak kuat menutup matanya lebih lama
Entah karena bau busuk yang selalu menyengat
Atau sampah yang selalu memenuhi jalanan
Sekarang aku baru tahu akan hal itu
Hal yang mengusir kicau burung di kota ini
Hal yang menghilangkan rasa betah di hati
Namun seingatku aku tidak ikut serta dalam hal ini
Sekecil apapun dari waktu silam sampai hari ini
Aku merasa jijik bertanya pada selokan
Aku merasa risih bertanya pada jalan membentang
Bukan karena tidak peduli
Namun seingatku bukanlah aku pelakunya
Engkaulah Penolongku
Tiga hari kemudian. Datang seorang yang sangat kubenci mengunjungiku. “Berengsek, mengapa kau kesini?” tanyaku.
“Apa aku tidak boleh kesini?” jawabnya.
“Kau boleh kesini tapi aku sangat muak melihat mukamu karena kau kesini bukan untuk membebaskanku tapi hanya untuk mengejek dan menghinaku.”
“Kamu jangan salah paham dahulu, kedatanganku kemari hanya untuk menyampaikan bahwa besok akan datang seseorang yang ingin membantumu.”
“Aku tidak butuh bantuan darimu dan kawanmu itu karena aku bukanlah orang yang pantas untuk bersama kalian.”
“Terserah padamu, ambil makanan yang kubawa ini.” Katanya sambil memberikan sekantong plastik yang berisi buah dan roti. Setelah itu dia pergi dengan menggandeng seorang wanita yang duduk di ruang tunggu. Namun aku digandeng oleh polisi penjaga rumah tahanan.
“Ni ada makanan.”
“Tadi siapa, Nal?” tanya Agus.
“Orang yang sok perhatian aja.” jawabku.
“Emang kenapa dia?” tanya Soni.
“Nggak perlu dipikirinlah.” Jawabku dengan menyalakan sebatang rokok dari Beni.
“Ditanya kok malah jawab kayak gitu?” timpal Agus.
“Biarin sih, orang kayak gitu mau-maunya kau urusin.” Jawabku sambil membuka lengan baju untuk nunjukin tato tengkorak dan otot yang besar di lengan. Agus pun diam karena merasa kalah kalau harus adu otot denganku.
Keesokan harinya. Ada seorang wanita berjilbab mengunjungiku. Entah apa yang ingin dia lakukan. Aku tidak mengenalnya sehingga aku bertanya,“Sepertinya aku belum pernah mengenalmu dan apa maksud kedatanganmu kesini?”
“Namaku Emma temanmu waktu di Lamongan, aku datang kesini untuk membantumu karena dapat info dari kakakmu.” Jawab wanita berwajah anggun itu.
“Kakak yang mana? Apa yang kau maksud orang yang datang kesini kemaren?”
“Iya, kak Heru.”
“Dan kau mau membantu orang bejat kayak aku ini? Orang yang biasa mabuk dan menelan ekstasi ingin kamu bantu.” tanyaku sambil tertawa akan kemustahilan ini.
“Iya.” jawabnya dengan mantap ditambah dengan pandangan mata yang sangat meyakinkan.
“Kalau gitu mana barangnya?” mintaku dengan tegas.
“Barang apa?”
“Barang yang bisa bikin aku happy and fun.”
Tanpa disangka Emma langsung membalikkan badannya dengan cepat dan pergi dengan lari.
Tidak lama setelah aku tiba di dalam kamar berdinding jeruji besi, aku ditanya oleh seorang tetangga kamar.
“Nal, kamu apain cewek tadi?” tanya Baim.
“Emang kenapa dengan dia?” jawabku.
“Dia pergi sambil menangis.”
“Biarin aja sih! Dia juga bukan siapa-siapaku.”
“Nal, kamu jangan langsung nyimpulin kayak gitu. Denger dulu kata orang yang jago dalam merayu cewek sampai-sampai masuk penjara karena bermasalah dengan cewek.” timpal Soni.
“Sudahlah nggak perlu ngomongin itu lagi.” sanggahku.
Haripun menjadi malam, siang, malam, dan siang lagi. Sampai seminggu ini cewek itu tidak datang lagi untuk menemuiku begitu juga Heru.
Keesokan harinya.
Datang seorang wanita bernama Shanti yang mengaku sebagai isteri Heru untuk menyampaikan selembar surat. Isinya sebagai berikut:
“Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Maafkan aku bila seminggu yang lalu langsung pergi begitu saja. Aku hanya ingin memberitahukan padamu kalau aku benar-benar akan membantumu. Aku sudah lama mengetahui segalanya dari kakakmu, namun akau baru bisa menemui dan mendatangimu sekarang karena dari dua tahun yang lalu aku harus menyelesaikan pendidikanku pondok pesantren.
Sehari setelah menemuimu aku pergi ke rumah pak Zaenal ayahmu yang telah lama tidak menemuimu sampai sekarang. Kujelaskan semua hal yang bisa kusampaikan, namun hasilnya tetap sama untuk tidak mengakui kamu sebagai anaknya. Besoknya aku datang lagi karena ditelpon sama ibumu. Dia menceritakan segala hal yang sebenarnya terjadi. Mulai dari pindahnya kalian sekeluarga ke jakarta dikarenakan pak Zaenal dipindah tugaskan. Tidak lama setelah itu ibumu dapat tawaran kerja sehingga mereka jarang berada di rumah. Dan bila di rumah mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Selain itu ibumu juga menceritakan tentang pergaulanmu sehingga terjadi hal yang seperti ini.
Terima kasih bila kamu mau membacanya. Selain itu ibumu juga minta maaf akan hal yang terjadi tersebut. Sekian dariku.
Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Temanmu, Emma Auliyah”
Setelah kubaca surat itu kurbek-robek, namun setelah malam datang kuteringat akan surat itu sehingga aku merasa sangat bersalah telah membuat Emma kecewa. Malam datang tidaklah sendiri namun bersama dengan teman-temannya, yaitu nyamuk-nyamuk penghisap darah, tikus selokan, kecoak, dan serangga lainnya membuatku sulit untuk tidur karena suaranya yang berisik. Besok paginya aku berusaha untuk meminta bulpen dan kertas pada penjaga untuk membalas surat kiriman Emma. Surat ini berisi permintaan maaf padanya atas tindakanku sebelumnya, alasanku memakai narkotik sehingga masuk ke penjara.
Dua hari kemudian Heru mendatangiku dan kutitipkan surat balasanku pada Heru.
Dua minggu kemudian.
“Assalammu’alaikum.” ucapan salam dari Emma.
“Wa’alaikumsalam. Emma kesini untuk keperluan apa?”
“Aku ingin menawarkan suatu bantuan untuk mengurangi masa tahananmu.”
“Apa imbalan yang kamu inginkan untuk tawaranmu ini?”
“Tidak ada imbalan untukku, namun ada suatu syarat untukmu.”
“Apa syaratnya?”
“Maafkan orang tuamu.”
“Maaf, untuk yang itu aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Mereka telah membiarkanku sehingga aku cari pelarian pada barang yang kalian anggap haram itu.”
“Dan kamu tertangkap.”
“Benar, setelah itu mereka tidak mau melihatku lagi dan tidak mengakui aku sebagai anaknya.”
“Itu terjadi sampai sekarang?”
“Iya.”
“Namun bila mereka datang kesini untuk meminta maaf. Apa pintu maafmu masih terbuka untuk mereka.”
“Mungkin.”
“Terima kasih, insya Allah besok aku akan datang dengan mengajak mereka.”
“Makasih juga.”
“Ini kubawain makanan untukmu.” sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi tiga bungkus nasi.
“Makasih ya!” teriakku sambil melambaikan tangan kepadanya yang telah keluar dari ruang kunjungan dan kudapatkan sepotong surat di dalam kantong plastik yang diberikannya.
Sesampai di kamar tahanan kuberikan kantong plastik tersebut pada teman-teman sekamarku, namun suratnya sudah kupisahkan untuk segera kubaca.
”Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Ronal, gimana masakanku tadi? Enak nggak? Maaf setelah tiga minggu ini aku tidak mendatangimu, karena berusaha untuk merayu orang tuamu untuk bisa memaafkan kesalahanmu. Dan tadi malam aku dapat meyakinkan mereka untuk bisa memaafkanmu. Selain itu aku juga sudah melobi temanku untuk bisa menerimamu bekerja ditempatnya setelah masa tahananmu habis dan dia menyetujuinya. Itu semua kulakukan karena aku sangat yakin padamu. Tenang saja suratmu sudah kubaca kok.
Sekian dulu. Terima kasih.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Sahabatmu, Emma Auliyah”
Setelah membaca surat dari Emma aku mencari makanan yang telah diberikannya padaku tadi, namun sudah habis tak bersisa.
Malam ini terasa indah meskipun segerombolan nyamuk dan kecoak telah menyerbu kamarku karena aku merasa sangat bahagia setelah bertemu dengan Emma dan setelah membaca surat darinya yang membuatku selalu membayangkan pemilik wajah yang begitu indah telah mengikat hatiku dengan sangat erat. Sehingga aku bertanya apakah ini cinta? Dan kebahagiaan akan keyakinannya padaku sehingga dia bisa membantuku untuk segera bebas dari tempat ini.
Keesokan harinya.
“Ronal, sekarang kamu sudah bebas. Cepat kemasin barang-barangmu. Keluargamu sudah menunggumu di depan.” kata seorang petugas kepadaku.
“Bener ni pak?” tanyaku nggak percaya.
“Iya.” jawabnya dengan tegas.
Setelah itu aku berpamitan pada teman-temanku dan menuju ruang tunggu untuk bertemu dengan orang ynag telah membebaskanku. Di ruang tunggu aku bertemu dengan Heru dan isterinya Shanti berikut pak Zaenal ayahku juga ibuku, namun tidak kutemukan Emma di sini.
“Ronal, aku telah menebus masa tahananmu.” penjelasan pak Zaenal.
“Terima kasih.” jawabku dengan nada tegas.
“Bolehkah aku meminta maaf.”
“Tidak.” jawabku sambil menahan lanjutannya beberapa detik, “Tidaklah pantas bagi seorang anak untuk tidak memaafkan orang tuanya dan aku sangat menyayangi kalian.” sambil kupeluk keduanya secara bergantian dengan menahan tetesan air mata yang terpaksa jatuh karena bahagia.
“Begitu pula kami.” kata ibuku.
“Emma kemana ya?” tanyaku.
“Kemaren setelah ke rumah Emma kecelakaan dan sekarang dia berada di rumah sakit.” penjelasan Shanti.
“Gimana kondisinya?” tanyaku.
“Keadaannya sangat kritis.” kata Heru.
Tak lama kemudian aku pergi menuju rumah sakit dan menemukannya dalam keadaan koma.
Lima haripun berlalu, aku selalu menemani Emma yang telah berhasil mengubah sikap orang tuaku sampai dia siuman. Ternyata penantianku tidak sia-sia, Emma siuman dan bertanya “Apakah kau mencintaiku?”
“Iya, dengan sangat.” jawabku.
“Terima kasih.”
Selang beberapa menit kemudian Emma tergeletak dan tidur untuk selamanya.
Akhirnya Usahaku Berbuah Juga
Jam tanganku menunjukkan pukul 9:00, waktuku untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat ke kampus. Beberapa diantaranya adalah barang-barang yang memang harus sudah berada di dalam tas, antara lain: madu pesanan sebanyak 3 botol, uang untuk pengambilan pesanan fotokopi yang besarnya sekitar Rp. 180.000,00, telepon genggam untuk berjualan pulsa dan komunikasi, dan alat-alat tulis seperti pena, serta bahan-bahan kuliah seperti modul dan buku pegangan. setelah semua beres aku tinggal ganti baju, pakai minyak wangi, sisir rambut, dan berangkat ke kampus. Namun sebelum ke kampus aku setor uang ke temanku untuk ditambahkan sebagai deposit pulsa. Setelah itu kumampir dulu ke tempat fotokopian langgananku yang harga fotokopinya lumayan murah untuk mengambil hasil pesanan fotokopi sebanyak 100 jilid yang tebal masing-masing sekitar 25 halaman. Meskipun fotokopiannya lumayan berat, ini untuk menghidupi diriku juga. Sehingga tidak ada alasan untuk menyerah dalam menjalani roda kehidupan dan menuju suatu harapan yang indah ini.
Sesamapinya di depan kelas dengan membawa kardus berisi fotokopian bahan kuliah aku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa terjadi pada detak jantungku yang berdegup semakin kencang, denyut nadiku yang semakin tidak beraturan, dan perasaan yang tidak karuan saat melihat sesosok wanita yang teramat-amat sangat indah bagai kurva integral logaritma sinus dengan variasi pangkat aljabar yang berliku-liku membuat pikiranku melayang selama 1/100 jarak matahari dan bumi yang ditempuh dengan kecepatan cahaya. Ditambah dengan senyuman selembut hasil evapotranspirasi dari padang rumput di hari yang terik membuatku semakin lama berjalan melintasi kurva deferensial fungsi parametrik. Sedangkan sebelumnya tidak pernah terjadi sesuatu yang seperti ini. Tidak lama berselang terdengar suara lembut, “Ahmad, kamu bawa fotokopi apa?”.
“Ini fotokopi slide kalkulus yang diberi sama dosen kemarin, Awin sudah pesan, kan?” tanyaku pada pemilik wajah yang sangat elok itu.
“Maaf belum, bisa pesen sekarang nggak?” tanyanya dengan sedikit memohon.
“Bisa saja, namun tidak bisa hari ini.”
“Ya udah nggak apa-apa. Gimana kalau besok pagi aja?”
“Oke dah kalau begitu.”
“Eh, madu pesana Eny sudah dibawa belum?”
“Ada nih di tas.”
“Ini uangnya, sekalian juga tolong isiin pulsaku 20 ribu dan pesan madu 1 botol.”
“Oke bos, pulsamu 2 menit lagi sampai, madumu waktu kuliah sore nanti sudah dapat diambil. Sudah capek nih berdiri terus sambil bawa kardus seberat ini, nanti lagi ya ngobrolnya.” Akupun menuju tempat duduk paling depan untuk menaruh kardus berisi kertas ini, serta istirahat sebentar sambil menyiapkan alat tulis dan buku pegangan sebelum perkuliahan dimulai. Sedangkan dia ngobrol dulu dengan temannya yang baru datang sebelum mencari tempat duduk yang tentunya sangat cocok baginya. Akupun mulai berfikir kalau dia bisa mendampingiku setiap hari meskipun peluangnya hampir mendekati nol
Seperti itulah hari-hariku yang kugunakan untuk mencari ilmu dan uang yang akan kugunakan sebagai modal untuk menikahi wanita yang menjadi pujaan hati dan jiwa, meskipun jauh di kampung halaman.
Malam ini adalah malam yang sangat indah untuk melamunkan diri bisa bersanding dengan si pujaan hati yang memang telah lama kutunggu waktunya. Ditambah dengan keindahan langit dengan taburan bintang-bintang dan bulan purnama bagai laut dengan ikan-ikannya, selain itu teman-teman lorongku yang biasa menciptakan polusi suara sekarang tampak sunyi bagai ditelan ombak. Perasaanku semakin menjadi-jadi, namun ada saja yang mengganggu, yaitu suara telepon genggam berdering dengan kencangnya, namun tidak ada nomor telepon yang tertera disana, sehingga cepat-cepat kuangkat.
“Assalammu'alaikum.”
“Wa'alaikummussalam.” jawab dari seorang wanita yang sepertinya suara ini pernah kukenal.
“Coba kutebak, kamu Lilis ya?”
“Kok tahu sih? Sedangkan kamu tidak tahu nomor telepon ini.”
“Ya tahulah suara seperti ini memang ada yang punya selain kamu.”
“bener juga katamu, sekarang aku ingin memberi tahumu berita baik bahwa besok aku mau tunangan.”
“Bagus dong kalau gitu, emang mau tunangan sama siapa?”
“Yang penting ada aja, nanti kamu juga tahu.”
“Dengan Arifin ya?”
“Bukan dengan dia, karena dia seminggu lagi ingin nikah.”
“Dengan siapa Lis?”
“Dengan Sinta.”
“Sinta mana?” tanyaku dengan penasaran.
“Sinta anak kelas bahasa.”
Teleponku langsung kututup setelah mendengar kabar tersebut yang memang tidak ingin kudengar. Hatiku menjadi gundah mendengar bahwa wanita yang beberapa bulan lagi ingin kulamar telah diambil oleh teman dekatku sendiri. Langitpun tiba-tiba mendung dengan petir yang menyambar-nyambar diteruskan dengan hujan lebat menghilangkan harapan yang telah kupupuk selama bertahun-tahun. Usahaku sekarang bagai tiada berarti apapun. Teman sekamarku tiba-tiba bangun dari tidurnya dan menatapku, sehingga kuceritakan apa yang telah terjadi, diapun juga ikut merasakan apa yang sedang kurasakan.
“Kalau memang Sinta menikah dengan Arifin, mungkin Allah telah menyiapkan seorang wanita yang lebih baik daripada Sinta, seharusnya kamu bahagia karena Sinta mendapatkan orang yang memang dia percaya untuk memimpinnya, dan Arifin bisa menyelesaikan setengah dari agamanya, sebagai seorang sahabat seharusnya kamu senang. Selain itu Allah pasti akan memberimu seorang yang lebih baik daripadanya, maka tabahkanlah dirimu dalam berusaha agar bisa menikahi wanita yang telah Allah sediakan untukmu itu.” nasehat darinya.
“Namun Sintalah yang kucinta dan bagaimana dengan aku?”
“Bila Allah berkehendak sesuatu akan hamba-Nya, hamba tersebut akan berusaha melakukannya, begitu pula takdir Allah yang tiada diketahui oleh hambanya, jika kamu berusaha menjadi hamba yang baik, Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik pula, dan kamu tidak akan merasakan sesal. Kamupun pasti sudah tahu sebelumnya karena waktu SMA menjadi anggota rohis.”
Tak berselang berapa lama aku segera mengambil air wudhu, kulakukan sholat taubat, dan berdo'a kepada-Nya agar pernikahan Arifin dan Sinta bisa berjalan dengan lancar dan dapat menjadi keluarga yang sakinah. Dan aku bisa mendapatkan bidadari yang lebih baik daripada Sinta. Begitu pula dengan usahaku sekarang yang berorentasi pada keuntungan bisa menjadi usaha yang berorentasi pada ridho Allah. Dan agar aku bisa semakin tabah menghadapi segala macam cobaan ini.
Hari ini adalah hari yang sangat indah dengan bisa menjalankan sholat subuh berjamaah, dan membangunkan teman-teman tidak hanya untuk berjualan molen, namun sekalian berbagi pahala sholat subuh dengan mengingatkan. Begitu pula hari-hari selanjutnya kujalani dengan semangat penuh karena kecintaanku kepada Allah tidak terbagi lagi. Sebulan, dua bulan pun tidak terasa, hari-hariku semakin indah, tawaran-tawaran bisnispun banyak mendekatiku, begitu pula pemahaman materi kuliah semakin meningkat, sehingga tidak ada sela untuk bersedih atau meratapi ketidakenakan di masa lalu.
Suatu ketika aku berkenalan dengan Pak Edy, beliau memberiku sebuah proyek usaha yang memang sangat besar peluangnya untuk dilakukan. Akupun memenuhi orderan Pak Edy dengan senang hati sehingga aku dalam waktu sebulan bisa membuka cabang dari usaha tersebut dan prestasiku di kampus membaik pula. Tidak lama Pak Edy menawariku untuk menikah dengan anaknya, aku mengiyakan tawaran Pak Edy setelah membicarakan segala sesuatu yang mungkin menjadi penghalang meskipun aku belum pernah mengetahui siapa anak Pak Edy yang ingin dinikahkan denganku.
Setiap hari aku semakin bertanya-tanya akan alasan Pak Edy menikahkan anaknya denganku sehingga aku datang langsung ke rumah Pak Edy pada hari libur untuk memastikan saja. Sesampainya disana, aku melihat rumah yang begitu asri yang memang dirawat sendiri oleh Pak Edy sekeluarga tanpa adanya pembantu. Sesuatu yang begitu kontras dengan pikiranku yang memandang bahwa orang sekaya Pak Edy mempunyai rumah besar menyerupai istana dengan beberapa pembantu di dalamnya dan supir yang selalu mengantarkannya ke tempat yang ingin dituju. Selang sekitar 10 detik setelah kupencet bel rumah Pak Edy keluar seorang wanita cantik berjilbab yang sepertinya pernah kukenal, dia adalah Awin yang memang sudah beberapa minggu ini tidak berjumpa karena liburan semester.”Assalammu'alaiku
“Wa'alaikummussalam, Ahmad nyari bapak ya?”
“Lho kamu kok tahu?”
“Tadi bapak pesen, kalau Ahmad akan kesini untuk membicarakan hal yang memang sangat penting.” sambil mengajakku masuk ke rumah.
“Emang sekarang bapak kemana?”
“Bapak pergi sebentar menjenguk temannya yang kecelakaan kemarin.”
“Ahmad, kamu sudah datang toh? Bapak sebentar lagi juga pulang.” sapa Bu Edy saat aku sampai di ruang tamu. Sedangkan Awin pergi ke belakang.
“Assalammu'alaikum.” terdengar suara dari luar.
“Wa'alaikummussalam” jawab kami serempak.
“Awin, bapak sudah datang tuh. Tolong bukain pintunya.” perintah Bu Edy kepada anaknya.
“Iya, Bu.” jawab Awin dengan suara lembutnya.
Beberapa menit kemudian aku bercakap-cakap dengan Bapak dan Ibu Edy, namun Awin berada di dalam tidak mengikuti pembicaraan kami sehingga Pak Edy memanggilnya.
“Awin, Ahmad, sekarang kalian berada disini. Bapak mau tanya, namun jawab dengan jujur?”
“Yang Bapak maksud itu apa?” tanya Awin ke bapaknya.
“Tolong jangan disela dulu omongan Bapak. Bapak hanya mau bertanya. Apakah kalian bersedia untuk bapak nikahkan?”
“Saya bersedia.” jawab Awin.
“Saya sangat bersyukur.” jawabku.
“Kenapa kalian langsung setuju dengan keputusan saya? Sedangkan Bapak juga tidak memaksa, hanya menanyakan saja.” tanya Pak Edy.
“Karena Ahmad sudah kenal dan mengagumi anak bapak yang tidak hanya berparas sangat cantik namun sangat luar biasa bagi saya.” jawabku.
“Saya sudah suka sama Ahmad sebelum dia sukses seperti sekarang, meskipun Ahmad miskin saya juga bersedia jadi istrinya karena orangnya jujur, mudah bergaul, punya komitmen, dan bekerja keras.” jawaban yang sungguh dahsyat dari seorang gadis yang akan kunikahi.
“Dua hari lagi kalian akan melaksanakan akad nikah. Ahmad, tolong ajak orangtuamu kesini. Segala sesuatu sudah Bapak siapkan. Ahmad hanya tinggal siapin maskawinnya saja. Bapak harap tidak ada yang protes.”
Dua hari kemudian, aku dan Awin melakukan akad nikah dan bersanding sebagai suami istri di pelaminan. Pada acara ini banyak teman-teman kuliah yang kami undang, sehingga semua tahu akan hubungan kami sekarang. Setelah menikah aku semakin merasakan karunia Allah yang memang sangat berlimpah dengan penuh syukur. Begitu pula hari-hariku yang semakin indah dibuatnya.
Angkuh
Tak mau menyebut nama-Mu
Segan meminta pada-Mu
Sombong akan pemberian-Mu
Meskipun aku tahu
Engkau yang Maha Kaya
Maha Pemberi Rizki
Dan Maha Besar Kasih-Mu
Aku angkuh, karena aku malu
Pada rekanku bila memohon pada-Mu
Pada sahabatku bila menyebut nama-Mu
Pada lingkunganku bila beribadah pada-Mu
Sekarang aku sadar akan segala kekufuranku
Karena tak ada apapun yang bisa melindungiku dari murka-Mu
Sehingga aku bertobat karena petunjuk dari-Mu
Tuhan semesta alam
mati
..........
.........
........
.......
......
.....
....
...
..
.
Sepi......
..........
.........
........
.......
......
.....
....
...
..
.
Hening......
.............
............
...........
..........
.........
........
.......
......
.....
....
...
..
.
Lautan Cinta-Mu
Daya dan upaya sirna waktu berdua dengan-Mu
Bibir terasa bisu karena keagungan-Mu
Telinga terasa tuli setelah mendengar ayat-ayat dalam kitab-Mu
Mataku buta saat memandang cahaya-Mu
Jantungku berhenti berdetak waktu berdekatan dengan-Mu
Maka terimalah aku di sisi-Mu
Meski aku pernah melupakan-Mu
Karena hanya Engkau yang Maha penerima taubat hamba-Mu
Pengadilan-Mu
Meski mulut tlah terkunci rapat
Mata, tangan, dan kaki bicara dengan jujurnya
Sehingga ku tak kuasa memprotesnya
Karena semua terbukti dengan teramat jelas
Tetesan air mata ingin kulepaskan
Untuk memohon ampunan pada-Nya
Namun tiada lagi ampunan
Membuat aku menyesali hidupku yang telah lalu
Hidup yang dipenuhi dengan nista dan dosa
Memakan harta haram tanpa rasa bersalah
Menjelek-jelekkan orang tanpa rasa iba
Memfitnah, mabuk, berjudi, dan kesalahan lain
Tanpa ada keinginan untuk bertaubat
Meski Allah telah memberi petunjuk-Nya
Allah yang Maha Adil
Kau bertabur harta
Aku bertabur darah
Kau naik mobil mewah
Kakiku tiada beralas
Kau dibelai gadis-gadis cantik
Aku dibelai cambuk api yang berduri
Kau hidup dalam kekenyangan
Aku berada dalam kelaparan
Tahukah kau, siapa aku?
Aku adalah kehidupan setelahmu
Berdua dengan-Mu
Namun asa juga berderai bagai butiran hujan
Segala isi hati ingin kuucapkan
Tapi bibirku tiba-tiba menjadi bisu
Telinga pun tlah tuli
Untuk mendengar teriakan, raungan, dan tangisan
Entah apa yang mereka tangisi
Aku tidak tahu
Begitu pula dengan raungan itu
Akhirnya mataku juga terpejam
Lafaz-Mu mengiringku ke samping-Mu
Urukan tanah meninggalkan aku tuk berdua dengan-Mu
Taburan bunga menyajikan kemesraan dengan-Mu
Tanpa ada yang mengganggu kebersamaanku dengan-Mu
Puteri Jelita
Mengapa hari ini kau begitu cantik?
Cantik bagaikan sang puteri raja
Dengan gaun yang anggun
Puteri
Tahukah kau siapa aku?
Aku adalah pangeran berkuda putih
Yang menyusuri setiap daratan
Dan menyeberangi setiap lautan
Hanya untuk mencari seorang puteri
Yang cantik jelita dan berhati tulus
Dan tahukah siapa puteri cantik itu?
Puteri cantik itu adalah wanita yang duduk di belakangku
Dengan bibir tersenyum manis
Cinta yang Membara
Ingin berpisah sekejap mata pun tak bisa
Karena asa sudah masuk dalam jiwa
Hati pun dipenuhi rasa cinta
Cinta yang begitu membara
Bagai api yang menyala-nyala
Membuat diri keluarkan segala asa
Yang sangat besar untuk terus bercinta
Karena Cinta
Meski hanya sejenak
Karena cinta ini telah membara dalam sanubari
Dan telah menghujam dalam dada
Sejenak tidaklah berarti bagimu
Namun sangat kubutuhkan
Bukan karena aku
Tapi karena cinta
Sebab cinta adalah interaksi antara dua hati
Dirimu yang Cantik
Engkaulah yang membakar bara di hatiku
Karena kecantikanmu yang teramat sangat
Membuat mata setiap lelaki buta karenanya
Dan membuat setiap wanita iri karenanya
Bila kau ada di sini
Malam yang gelap
Semakin bertambah gelapnya
Karena senyumanmu membuat bulan purnama padam
Dan lirikan matamu membuat bintang kejora redup
Hewan-hewan malampun terdiam karena kecantikanmu
Sehingga malam semakin hening karenamu
Cinta
Mengapa kau hadir tanpa kuundang
Mengapa kau datang tanpa memberiku pilihan
Mengapa kau menyusupi dada ini
Mengapa kau merasuki kalbu
Mengapa kau menggerogoti hatiku
Cinta...
Kau membuat hatiku selalu gelisah
Kau membuat pikiran selalu bimbang
Kau sungguh indah di lamunan
Kau dicipta oleh Sang Maha Indah
Untuk menaklukkan hati yang keras membatu
Seperti diriku ini
Cinta Itu: Renungan Tentang Rasa yang Menguatkan dan Merapuhkan
Cinta memang indah.
Sesuatu bisa terasa lebih berwarna karenanya. Bahkan hal-hal kecil yang dulu biasa saja, tiba-tiba menjadi berarti ketika cinta menyentuhnya.
Cinta memang gila.
Kadang akal sehat tidak lagi menjadi penguasa. Hati mengambil alih semuanya, membuat kita berani melakukan hal-hal yang dulu tak pernah kita bayangkan.
Cinta memang buta.
Ia mampu menutup celah-celah logika, membuat kita memilih tanpa hitungan untung rugi. Namun justru di situlah keajaibannya: cinta memberi alasan untuk bertahan, bahkan ketika dunia berkata “tidak”.
Cinta memang aneh.
Ia bisa membuat orang paling kuat menjadi rapuh, dan orang paling rapuh menjadi kuat. Cinta tidak pernah bisa ditebak, tapi selalu mampu membuat kita merasa hidup.
Pada akhirnya,
cinta itu seperti angin yang datang tanpa permisi—mengubah segalanya tanpa kita sadari.
Kadang menyembuhkan, kadang menyakitkan, tetapi tetap menjadi sesuatu yang membuat hidup terasa lebih manusiawi.
Wanita Tercantik
Bertubuh yang menawan jutaan mata manusia
Berambut malam tanpa bintang dan bulan
Wajahnya selembut butiran salju
Bibirnya laksana bulan sabit berdarah
Senyumnya semanis madu lebah gunung
Suaranya bagai simponi nyanyian rintik hujan di pagi hari.