Halaman
Selasa, 20 April 2010
Panen Raya
Gemericik air tidurkan jerami-jerami kering
Hangatnya mentari disambut gelak tawa kurcaci
Angin sumilir lingkari tubuh mungil
Rumput dan padas bernyanyi akan cita-cita
Alunan ani-ani hilangkan sedih
Bulir-bulir gabah terbang dan menari
Burung-burung kecil lepaskan kegelisahan
Badai yang Dahsyat
Cinta, takut, harap menancap dengan kuatnya
Awan tebal gelapkan pandangan
Rengek dan tangisan kukuhkan permintaan
Hujan deras menggerus tanah dan pasir
Ratapan pilu diiringi untaian zikir
Butiran es menghantam atap tiap rumah
Ketaatan tlah menghujam dalam dadanya
Angin yang kencang terbangkan ranting dan dahan
Tangan yang menengadah sempurnakan permohonan
Air membanjiri setiap hidup dan mati
Air mata basahi pipi, dagu, dan telapak tangan
Cinta Kelabu
Daun ribang mencela dahan rambutan
Gubuk kayu menahan kegerangan
Padang ilalang diselimuti sulaman jeruji sepeda
Sepatu butut terkapar di depan gubuk tua
Angin menggeram kesakitan
Bulu kaki memanggil awan
Cinta Perjaka
Kamboja berayun tersipu malu
Goresan pena menuai kata
Raja siang merayu puteri rembulan
Perjaka tidur dalam kebimbangan
Awan tutupi matahari dan timbullah hujan
Kegundahan menerpa daun muda dan terbangkan daun kering
Sayup-sayup tubuh besar semakin layu
Menangis di Punggung Malam
Burung, katak, jangkrik
Angin dan hujan
Tak menampakkan diri
Sunyi senyap
Kelelawarpun tiada
Namun di sini
Masih ada pohon-pohon yang tak berdesis
Dahan-dahannya menyembunyikan embun yang pucat
Perempuan yang lemah dan rapuh
Ditusuk belati kesunyian
Langit pun membisu tanpa bintang maupun bulan
Peneranga mendadak padam
Bulu-bulu di sekujur tubuh berbaris dengan rapinya
Air pun menetes
Satu demi satu
Dari sepasang kelopak mata indah
Di dalam kamar itu
Aku Memilih Diam
Aku hanya bisa diam
Terpaku dalam kesunyian
Dan keheningan menyatu dalam diri yang diam
Terdiam bukan tak ingin bicara
Bukan pula suatu keharusan
Ataupun suatu keinginan
Karna diam suatu pilihan
Tuk selamatkan tangan para penjajah
Dari menumpahkan darah
Dan untuk selamatkan saudara sebangsa
Dari kemungkinan hilangnya nyawa
Berduka
Kaur ingin bertanya
Namun rasa enggan mengalahkannya
Dalam kesunyian yang dalam
Tanpa suara katak, jangkrik, dan angin yang biasa menemani
Meja pun diam
Begitu pula bangku yang sejak tadi membisu
Dan penghapus papan pembuat gaduh
Sekarang tak angkat bicara
Malam yang sunyi semakin hening
Dalam kesedihan yang teramat dalam
Langit-langit kelas meneteskan air
Tik
Tik
Tik
Kapur pun mengerti
Pembuat keheningan ruang kelas
Dia pun menangis
Karena Tuhan berkehendak lain
Akan keromantisan hubungan mereka
Bersama seorang guru yang mendidik dengan sepenuh hati
Kamis, 15 April 2010
Cinta yang Pergi
Cinta,
mengapa engkau pergi?
Tanpa suara, tanpa kata,
tanpa bahkan sehembus angin
yang bisa kukira sebagai tanda.
Engkau pergi seolah waktu berhenti,
meninggalkan ruang hampa
yang hanya berisi gema langkahmu —
langkah yang tak sempat kuikuti,
karena aku masih berdiri di antara
doa dan penantian yang tak berpintu.
Cinta,
mengapa engkau menjauh?
Kau bawa serta separuh napasku,
meninggalkan bara yang dulu kau nyalakan,
kini membakar tubuh tanpa nyala,
menyisakan abu rindu yang beterbangan
di setiap malam tanpa bintang.
Engkau memang indah,
terlalu indah hingga menyilaukan,
hingga aku lupa
bahwa cahaya seindah apapun
bisa menyakitkan mata yang terlalu lama menatap.
Cinta,
apa makna kehadiranmu
jika akhirnya hanya meninggalkan luka?
Apa arti semua tawa itu
jika kini berganti hening yang menusuk dada?
Engkau bukan lagi keindahan,
bukan lagi hangat yang kutunggu,
melainkan bayangan yang memelukku
dalam dingin yang tak berakhir.
Dan kini aku mengerti —
kadang cinta datang
bukan untuk memberi kehidupan,
melainkan untuk menunjukkan
betapa rapuhnya hati
yang pernah percaya pada keabadian.
Kekasihku
Maafkanlah daku
Yang tak bisa menemanimu
Tuk habiskan waktu di malam ini
Kawan
Aku ingin tidur
Bukan tuk hilangkan capek
Ataupun penat
Tapi karena Kekasihku nanti datang
Untuk bermesraan denganku
Kawan
Aku tak ingin Dia kecewa
Melihatku dalam keadaan tidur
Bukan berdzikir pada-Nya
Kawan
Aku merasa sangat menyesal
Bila Kekasihku pergi
Tanpa menengok lagi kepadaku
Karena kelalaian diriku
Selasa, 13 April 2010
Pena
Menggores pena di lembaran senja
Malam datang gantikan siang
Nyanyian dahan kenari indahkan senja
Burung pun pulang mencari sarang
Sabtu, 10 April 2010
bumi bermuka suram
Bumi menggeliat bermuka suram
laut menepuk pundak ulama
awan menikam harimau tidur
guratan embun menyentuh daun tebu
hamparan danau darah berbatu
gagak putih hilangkan haus
pohon pisang berkaca-kaca
kayu meranti hindari api
coban meraung matikan nadi
rumput hitam diterpa angan
gundukan pasir menanti hari
Kamis, 01 April 2010
Gerimis
Rasa gembira membuka jiwa
Harapan lama datanglah sudah
Membawa cinta pelipur lara
Hati menjerit karena bahagia
Melihat senyum para bocah
Memupuk asa suburkan jiwa
Rasa merana semakin sirna
Darah mengalir kuatkan raga
Kobaran semangat membunuh derita
Burung bernyanyi indahkan siang
Jemari lentik sulam impian
Bunyian
Tak
Tak
Tik
Tik
Tik
Tuk
Tuk
Tuk
Tak
Tik
Tuk
Tak
Tik
Tak
Tuk
Tak
Tak
Tik
Tik
Tik
Tak
Tik
Tuk
Tik
Tak
Tuk
Tuk
Tak
Tuk
Tik
Tuk
Tuk
Tuk
Tik
Tak
Tuk
Tik
Tak
Tak